Feeds:
Posts
Comments

Sumpah Pemuda di InLAC

Semua tahu bahwa akhir oktober kemarin, adalah masa mengenang kejadian yang belangsung seabad sebelumnya – yaitu Sumpah Pemuda. Mengikuti momen ini, InLAC mencoba mengumpulkan ide-ide (seliar dan sebebas) apapun yang bisa hadir dari benak dan kreatifitas InLACer, dalam sebuah lembaran kertas yang bertajuk “Janji Apa yang kamu berikan untuk Indonesia?”, nah… semua InLACer boleh menuliskan idenya disana, setelah dua minggu ini dia hasilnya Sumpah Anak-anak muda Indonesia Jaman Ini (yang diwakili oleh InLACers), Silahkan disimak… mereka berjanji untuK:

  • Menjadi bintang-bintang Masa Depan dunia <The BoZ>
  • Menuju Lebih baik lage… <SMATARDA-PABRASKA>
  • Janji Quw buaT bangSa IndoneZia yaitu adalah … AQ bakal jadi Presiden pada masa yg akan datang ^_^ <Endelz>
  • 1 Langkah 1 derap 1 tujuan…. JAYA <anonymous>
  • Pemuda Indonesia GA’ ADA YG PENCENG LOOH..!!
  • membela Keutuhan Negara Indonesia <The BoZ>
  • SumPah PemuDA 2008-10-28 at 8:53 pm Aku JaDian Ma` CWQ <Shuk’ro>
  • Pemuda Indo gg boleh stuck hanya karena cinta, forget iT!!!! <ogrey>
  • Cinta Nasional Berpikir Global Berjiwa UniVersal <ADJEB (lagi)>
  • Menjadikan pemuda+pemudi (mua-mua-naa) NIDJIHOLIC <caa.cow!moow!>
  • Pemuda indo g leh banyak cakap, Bukti’in lo kamu gak struk juga <Doel>
  • Q berikan Kontribusi u/ membawa perubahan di Indonesia lebih baik <L-N-R>
  • Best the Best for Pemuda Indonesia <Ovey :)>
  • Kami poetra dan Potri Indonesia peduli kepada orang-orang Miskin <Nizar STESIA>
  • Mengutamakan memakai produksi-produksi Indonesia <The BoZ>
  • Save Our Contry from global warming and polution <Syaiful>
  • Saya Poetra Indonesia berjanji selalu ganteng setiap Saat <Bangkit>
  • Nurani yang Satu Nurani untuk Bangsa Indonesia <Jhe>
  • menghormati tanah air indonesia <Tara>
  • Pemuda Hari ini Pemimpin masa depan <Gasepu_chem@yahoo.****)
  • ♥ INA <rezha>
  • BangkitKan Indonesiaku yang Merdeka <indi>
  • BangkitKan Indonesiaku kembali! Maju terus Pantang Mundur <Tyas>
  • Indonesia AQ berjanji di dalam hati SmangaDh!! <pRutz>
  • Aku Berjanji Akan menikmati wanita INDONESIA <HamZ>
  • Jangan gampang nyerah <ogRey>
  • melindungi keberagaman budaya dan kekayaan NKRI dari tetangga yang klepto <adjeb>
  • Maju terus Pantang Mundur dalam belajar dan berprestasi <alph>
  • B’janji cinta masakan Indonesia ^_^ yummy <♥♥>
  • Menjunjung Tinggi Harkat dan Martabat Bangsa Indonesia <The BoZ>
  • Kami Poetra-dan poetri Indonesia menjunjung tinggi Pendidikan Indonesiaku <FadJAR, STESIA>
Advertisements

Anak Bodoh yang Menjadi
Jutawan

oleh : Alvin Hikmawan, S.Psi

Thomas Alva Edison terlahir sebagai
anak terakhir dari tujuh bersaudara pada tanggal 11 Februari 1847, di
kota pelabuhan Milan, Ohio dari keluarga besar Samuel Edison. Edison
kecil mengalami kesukaran dalam berbicara (bahkan tidak bisa ngomong)
hingga dia berusia empat tahun. Begitu dia bisa berbicara, Edison
gemar sekali menanyakan kepada orang-orang di sekitarnya, mengenai
apa yang mereka lakukan, dan ketika jawaban yang hadir adalah “ngga
tahu, Tom” edison akan bertanya “knapa kok nggak tau?”.

Kebiasaan ini membuat Edison kecil
bermasalah di sekolahnya, saat itu dia berusia 7 tahun dan dalam
sebuah kelas bersama 38 anak lainnya (yang rata-rata usianya 11
tahun), gurunya kehilangan kesabaran dengan pertanyaan-pertanyaan
keras kepala dari anak yang cenderung hiperaktif ini selama 4 bulan
dia masuk kelas. Sang guru akhirnya mengikuti pandangan umum kala itu
bahwa anak hiperaktif adalah anak yang otaknya kurang benar. Yah
kalau bahasa psikologi modernnya ialah ADHD (attention deficit
hyperactivity disorder – Gangguan Hiperaktifitas dan Defisiensi
dalam Memperhatikan). Bahkan sang guru juga tak segan-segan
memberikan julukan “Addled” yang jika di Indonesia bisa berarti
“kosong” atau “pandir”.

Ibunya Thomas Alva Edison, meyakini
bahwa Tom (panggilan akrab Thomas Alva Edison) tidak seperti yang
digambarkan oleh gurunya – nalurinya sebagai ibu membantunya
melihat bahaya yang bisa di timbulkan oleh pandangan sang guru
tersebut terhadap kepercayaan diri Tom yang masih rapuh seperti sayap
kupu-kupu (Tom memang cenderung Introvert dan pemalu). Akhirnya
Ibunya memutuskan agar Tom keluar dari sekolah (yang segera disambut
gembira oleh sang guru) dan mulai proses belajar yang ditangani
langsung oleh beliau, proses ini secara perlahan mampu mengembangkan
Tom menjadi pribadi yang luar biasa. Selama masa home-schooling ini
edison diajari oleh ibunya mengenai pengetahuan filosofi dan agama.
Sedangkan oleh ayahnya, Tom di tantang untuk mempelajari buku-buku
klasik dan memperoleh uang saku sebesar 10 sen untuk tiap buku yang
ditamatkannya (waktu itu sepuluh sen mungkin bernilai Rp. 10.000 uang
sekarang)

Dalam waktu singkat, Tom mulai tertarik
pada sejarah dunia dan sastra inggris dan memutuskan untuk menjadi
seorang aktor, namun suaranya yang cempreng dan sifat pemalu yang
dimilikinya, akhirnya mau tak mau memakasa Tom berhenti memikirkan
karir ini. Namun sepanjang hidupnya Tom gemar sekali membaca dan
mendeklamasikan puisi. Pada usianya yang ke-11, orangtuanya mulai
mengajarkannya bagaimana cara belajar langsung dari index buku-buku
diperpustakaan, yang selanjutnya membuatnya lebih menyukai belajar
secara mandiri, kebiasaan ini tetap terbawa selama rentang hidupnya.
(kalau sekarang mungkin metode yang dipakai oleh Tom ini bisa
disamakan dengan menggunakan search engine macam google atau
yahoo…)

Selama setahun tersebut, Orangtuanya
juga memandunya agar belajar secara lebih selektif atas apa yang dia
baca. Hingga dia bisa menghabiskan : Kebangkitan dan Keruntuhan
Kekaisaran Romawi, Sejarah Dunia, Kamus Sains dan berbagai macam
Percobaan-percobaan kimia praktis. Seiring dengan makin berbobotnya
buku bacaan yang dilahapnya, Orangtua Tom merasa mulai kewalahan
untuk menjawab pertanyaan bocah 12 tahun ini mengenai masalah Sains,
terutama yang menyangkut tentang teknis-teknis mendalam sehingga
mereka harus menyisihkan uang belanja keluarga untuk menyewa seorang
Guru Les yang handal khusus untuk membimbing Tom. Saat Tom mengetahui
bahwa uang Les yang dipakainya mengurangi uang belanja keluarganya,
rupanya membawa pengaruh buruk pada Tom, karena dia memandang bahwa
Teori Sains di tulis dalam bahasa yang terlalu tinggi dan muluk,
sehingga dia membenci penggunaan tata bahasa bahasa yang “terlalu
tinggi” dan logika matematika yang rumit dan kurang mudah dipahami.

Dalam bulan-bulan selanjutnya, Tom
mencoba untuk menjadi “dewasa” dengan berjualan di stasiun kereta
api, dia berjualan apapun seperti permen, kue, koran dan setelah
beberapa minggu Tom membuka bisnis tersendiri berjualan buah dan
sayur di Kereta Api. Semuanya ini dimulai sejak dia berusia 12 Tahun.
Dua tahun kemudian, Amerika Serikat sedang mengalami debat presiden
Pra-perang sipil Antara Lincoln dan Douglas, Tom yang saat itu sudah
14 tahun (Usia awal kerja untuk masa itu) memanfaatkan aksesnya ke
kantor telegram kereta api, untuk mendengarkan berita terbaru
mengenai Debat Presiden tersebut dan menjual beritanya di koran kecil
terbitan Tom sendiri “Weekly Herald”. Surat kabar ini saat puncak
kejayaannya bisa mengisi kantong Tom sekitar $ 10 perhari. Yang
membuatnya bisa membangun laboratorium di basement rumahnya.

Ibu Tom rupanya
sedikit khawatir dengan Laboratorium miliknya, akhirnya Tom
memindahkan Laboratoriumnya ke sebuah kereta (dia menyewa gerbong
itu). Namun sebuah kecelakaan terjadi, ketika secara tidak sengaja
guncangan gerbong, membuat bahan kimia dalam Laboratorium Thomas
bereaksi dan membakar habis gerbongnya. Sang kondektur yang kalut
m
enghajar Tom, yang membuat telinga kirinya menjadi
benar-benar tuli sedangkan telinga kanannya hanya dapat mendengar
sebanyak 20% saja. Dan yang lebih parah, kepala stasiun melarangnya
untuk berjualan lagi di stasiun. Meskipun Tom tidak bisa lagi
mendengarkan kicau burung, namun Tom masih senang untuk mengamati
makhluk lucu ini, dan seringkali menghabiskan waktunya di gerbong
pengangkut burung (saat itu, kereta api merupakan alat transportasi
paling modern di dunia, jadi semua hal diangkut dengan kereta).
Nasibnya berubah ketika anak bungsu kepala stasiun sedang berjalan di
depan sebuah kereta yang sedang melaju, Tom yang kebetulan ada di
gerbong burung melihat anak kecil itu, dan segera melompat
menyelamatkannya. Tindakan berani ini membuat Tom dipekerjakan di
kantor telegram di stasiun tersebut (mirip sama plot ceritanya
Benyamin S. nih T_T). Setelah Setahun di Kantor Telegram itu, Tom
memutuskan untuk pindah ke kota besar, pada usia 16 Tahun Tom
menyelesaikan penemuan pertamanya, yang dikembangkan dari percobaan
di waktu senggangnya, disebut “automatic repeater” sebuah mesin
yang bisa menyambungkan telegram dari satu kantor telegram ke kantor
lainnya meski tanpa ada operator disana. Entah mengapa mesin ini
tidak pernah dipatenkan olehnya.

Pada usia 21 tahun, kehidupan keluarga
Tom mulai guncang, ibunya menunjukkan adanya tanda-tanda gangguan
kejiwaan dan ayahnya berhenti dari pekerjaannya, serta rumahnya akan
dilelang oleh Bank setempat, Tom yang sudah mulai dewasa mulai
berpikir untuk menghasilkan uang secara serius dan dia mengikuti
saran rekannya untuk masuk ke kantor telegram ternama saat itu
“Western Union Company” di Boston. Sebuah kota yang menjadi pusat
teknologi pada masanya.

Dikantor inilah Tom membuat penemuan
pertamanya (yang dikerjakannya selama waktu senggang juga) yaitu
mesin pencatat pungutan suara elektronis” (kurang
lebih fungsinya hampir sama dengan mesin penjawab pada kuis Siapa
Berani-nya Helmi Yahya)
. Namun
sayangnya, penemuan itu rupanya memberikan “dampak buruk” pada
politisi – pada saat itu banyak politisi yang memanfaatkan metode
kuno yaitu maju bergantian utnuk memberikan suara, yang butuh waktu
cukup lama, dimana jeda waktu tersebut dimanfaatkan untuk
mempengaruhi lawan-lawan politiknya, curang yah..!?

Meskipun kecewa, Tom memahami bahwa
mesinnya ditolak karena terlampau maju untuk jaman itu, sehingga
pasar tidak tahu penemuan ini mau diapakan. Sejak itulah dia
menggunakan prinsip utamanya “Jangan menghabiskan waktu untuk
menciptakan sesuatu yang tidak bakal dibeli orang” – prinsip ini
sekarang dipakai juga oleh Donald Trump “Jangan mau kerja jika
tidak menguntungkan”

Selanjutnya Tom mulai melakukan
penelitian mengenai pengiriman banyak sinyal melalui kabel telegram,
berdasarkan perkuliahan Boston Tech (sekarang adalah MIT) yang bisa
menghasilkan suara manusia tiruan dari sebuah corong bahkan beberapa
gambar yang kabur (internet pertama sepertinya ^_^) dari sebuah mesin
yang dinamakan “harmonic telegraph”.

Namun Edison gagal mengembangkan
telepon bahkan dia diancam dikeluarkan dari western union dengan
alasan kerja nggak niat (apalagi becus hehehe). Ditambah lagi
percobaan-percobaannya menghabiskan banyak tabungannya, yang
membuatnya hampir bangkrut, akhirnya dia meminjam uang ke sahabatnya,
untuk membeli tiket pindah ke New York. Namun sesampainya di New York
nasib Tom tidak segera membaik, bahkan dia harus berkeliling ke
distrik perdagangan di New York, untuk mencari lowongan (beberapa
orang menceritakan bahwa Tom terpaksa tidur di Basement gedung-gedung
perkantoran New York sebagai seorang tunawisma). Suatu hari ketika
Tom sedang makan siang di kedai pinggir jalan, sebuah kantor saham
disana mengalami kerusakan serius, mesin pencatat saham yang ada di
loby kantor mengalami kerusakan, sehingga banyak pialang saham yang
merasa gusar dan berkumpul disana, sedangkan para pegawainya hanya
diam tanpa tahu apapun. Tom tergelitik untuk mencari tahu melihat
kerumunan itu, dan ketika dia memperoleh mengetahui permasalahan yang
ada disana, nalurinya untuk penasaran mendorongnya mengamati mesin
tersebut. Dan ketika Tom menyadari bahwa masalahnya hanyalah
gara-gara sebuah pegas sedikit kendor. Hanya dalam hitungan menit,
mesin tersebut kembali normal ditangannya. Manager Perusahaan itu
segera memanggilnya dan menyewanya sebagai kepala bagian perawatan
dengan gaji $ 300 sebulan (nilainya adalah dua kali gaji rata-rata
tukang listrik New York). Disinilah Tom mulai bisa bekerja sambil
mengembangkan percobaannya. Sejak inilah dia menciptakan banyak alat,
terutama ketika dia mampu menyewa sendiri laboratorium di Menlo Park
New Jersey pada 1876, mulai dari Phonograph (semacam perekam suara),
Vitascope (kamera video pertama) hingga lampu listrik pertama
diciptakan, hingga dia membuat perusahaannya sendiri “General
Electric”, yang sampai sekarang masih menjadi perusahaan multi
dimensi untuk kelas dunia.

sumber :

Stay Hungry. Stay Foolish.

Naskah pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar, dalam acara pelepasan mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005.

Saya diberi kehormatan untuk bersama kalian di hari pertama di salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah. Bahkan sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat dalam upacara wisuda. hari ini saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya. Hanya itu, tidak lebih. Hanya tiga cerita.

Cerita Pertama adalah mengenai rangkaian titik-titik.

Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus
diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa- masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga menumpang tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan. Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu.

Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.*Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang*. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau apapun istilah lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya adalah mengenai Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami -Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan?

Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di
mana-mana.

Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya, saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya.

Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali, saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.

Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya.  *Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. *Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya adalah mengenai Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya
tahu saya harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut, malu atau gagal- tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.  Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu. Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan  menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960- an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir.  Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.

Di bawahnya ada kata-kata: “*Stay Hungry. Stay Foolish.*” (Tetaplah merasa Lapar. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish.

Terima kasih semuanya.

Sumber : http://asabiasa.wordpress.com

Video Pidato ini dapat di lihat di  : http://www.youtube. com/watch? v=D1R-jKKp3NA

“Anda lahirnya jumat kliwon toh…??!!”
“Anda ngga pantes kerja di sini….”
“Pantesnya kerja disono… “
(iya… di laut aja… wkkkkkk)

maraknya tayangan Iklan di televisi mengenai cara instan sukses melalui teknik magis,  nampaknya merupakan sebuah fenomenainstan lanjutan dari tuntutan hidup manusia modern, yaitu “instan“. fenomena yang merupakan sebuah kaitan langsung dari dimensi yang bernama waktu.

Kebanyakan saya kurang tahu juga tentang seberapa efektif iklan tersebut diserap oleh konsumennya, namun yang pasti untuk tayangan seperti itu kan nggak murah, artinya butuh dana cukup besar untuk “melakukan gerakan reversi intelektual” seperti ini. andaikan uang segitu banyaknya masuk ke sebuah sekolah di daerah papua.. pasti mereka akan bisa beli lebih banyak buku bagi siswanya.

Nah…. kembali ke judul awal, ceritanya suatu ketika setelah memberikan kelas motivasi di sebuah SMA, penulis ditanya oleh seorang audience di luar sesi, “Mas, dengan ilmu psikologi yang mas jelaskan, lantas apa bedanya dengan iklan <seperti diatas,pen> di TV? toh masa depan adalah suatu yang masih abstrak hingga saatnya nanti?”

Sambil ketawa, saya ceritakan bahwa psikologi juga merupakan ilmu ghoib (yang langsung membuat ekspresi wajahnya seperti habis makan linggis), maksudnya apa yang psikologi pelajari adalah suatu hal dibalik kulit dan tulang manusia, lebih dalam dari apa yang bisa kita lihat dari seseorang. “Dan karena itulah saya mengklasifikasikannya (secara awur-awuran, yang sama ngawurnya dengan tokoh iklan diatas) sebagai cabang ilmu ghoib”. yang segera ditanggapi dengan manggut-manggut.

“Tapi yang pasti,” lanjut saya “dalam ilmu psikologi ramalan tidak diberikan kepada klien begitu saja, ada tahapan perencanaan dan motivasi untuk mencapai sebuah keberhasilan”.

“Apapun weton kamu, apapun shio kamu, siapapun trah nenek moyangmu, keberhasilan adalah sebuah hadiah yang pasti akan diberikan-Nya jika selama proses pencapaiannya dilakukan secara terencana dan penuh motivasi”.

Nah.. para pembaca sekalian (kaya novel jaman dulu yah), ketika saya cermati yang menjadi barang dagangan dari Iklan diatas. adalah jaminan dan iming-iming ke-instanan pada suatu kasus. Bagian inilah yang paling berbahaya, karena ketika seseorang sudah terbuai pada instan-minded ujung-ujungnya, effort yang akan diberikannya menjadi berkurang. yang akan berdampak langsung pada Motivasi seseorang. dan Alih-alih menjadi solusi, iklan ini akan membawa dampak kurang baik bagi masyarakat. Semoga Bangsa Indonesia terhindar dari Hal-hal seperti ini.

Melatih EQ di Trafic Jam

Beberapa diantara kita pastinya pernah
terjebak dikemacetan, baik itu yang macet total maupun yang macetnya
ga niat (ya maksudnya kadang jalan kadang macet). Nah ketika kita ada
di tengah kemacetan itu, biasanya kita merasakan apa yang disebut
oleh ilmu kedokteran dan psikologi modern sebagai “mbelenek atau
sebel dan pengen uring-uringan” (hihihi, jayus yah…), nah rasa
sebel ini ternyata bukan cuman dialami kita aja loh, karena ternyata
pengendara disamping kiri kita, pengendara disamping kanan kita,
tukang becak di depan kita, sopir angkot diseberang, ibu-ibu yang mau
pulang kerja, anak sekolah yang sedang ketiduran di kelas dan
ketahuan sama gurunya (loh kok nggak nyambung sih???) walah pokoknya
semua orang yang terlibat dalam macet itu.

Nah rasa eneg ini, ternyata jika kita
amati secara lebih mendalam, ternyata berdampak juga pada wajah
masing-masing orang yang ada di dalam area macet tersebut,
jaraaaaaaang sekali kita melihat ada orang bisa senyum disana. Coba
deh lihat ketika anda sedang ada di dalam sebuah kemacetan.

Nah berangkat dari pengamatan saya
terhadap orang-orang yang sedang macet bersama-sama dengan saya,
(idiih, kurang kerjaan bener orang lagi macet diliatin) ternyata
jarang loh ada yang yang bisa senyum.

Suatu ketika saya sedang berada
disebuah titik kemacetan di surabaya tepatnya diperlintasan kereta
dibelakang Royal Plaza. Daerah itu selalu macet setiap habis ada
kereta lewat karena letaknya yang merupakan pertemuan dua pertigaan
yang sama-sama ramai. Buat yang bukan arek Surabaya, mungkin bisa
membayangkan dua buah “T” diputar 90 derajat hingga dalam posisi
tidur, yang satu diputaar kekiri 90 derajat, hingga kakinya kekiri,
yang satunya diputar ke kanan 90 derajat juga hingga kakinya ke
kanan, nah terus disatukan dalam posisi bertumpuk, dan diantara
tumpukan tersebut melintang perlintasan kereta. Sudah bisa
membayangkan sekarang? Sudah ya..?


Nah saya (dan beberapa orang lainnya
didepan dan dibelakang saya) ingin berbelok ke kanan, disisi jalan
sebelah kanan saya ada pengendara yang ingin lurus dan ada juga yang
ingin belok kanan, akhirnya terbentuklah simpul mati kendaraan
disana, dan… macetlah.


Setelah berhenti total selama 20 menit,
orang-orang pun mulai menunjukkan gelagat mbeleneg tadi.
Akibatnya otak saya yang sudah diinstal keisengan sejak
penciptaannya segera berproses, tak ayal pikiran untuk untuk iseng
pun mulai mengaliri seluruh tubuh. Akhirnya (bener-bener dengan niat
iseng semata) sayapun mulai tersenyum, senyum yang biasanya saya
berikan kesahabat yang sudah beberapa tahun tidak berjumpa, senyum
yang biasanya saya berikan kepada murid-murid saya yang berhasil
memecahkan teka-teki silang yang saya design untuk evaluasi belajar
di kelas, senyum yang saya terbitkan ketika saya sedang mendengar
kabar yang begitu menggembirakan, pokoknya senyum yang 110% tulus.

Hasilnya luar biasa, pengendara motor
yang didepan saya dari arah berlawanan kebetulan melihat saya
(habisnya saya senyum terus selama kurang lebih 3 menitan), dan
beliaupun lantas ikutan tersenyum, setelah melihat lampu seinku
menyala minta jalan kekanan, beliau kemudian menoleh kanan-kiri
sejenak untuk mengamati situasi, terus.. mundur setengah meter.
Saudara-saudara, setengah meter ini ternyata cukup untuk dilewati
motor loh. Segera pengendara yang didepan saya mengambil celah itu,
di ikuti saya, terus dan selesailah masalah kemacetan saat itu.


Sambil nyetir saya jadi berpikir,
apakah yang membuat macet itu adalah perasaan mbeleneg tadi? Karena
begitu kita tersenyum, otak yang tadinya kaku dan tegang, tiba-tiba
bisa berfikir lagi secara lancar. Mungkin ini yang membuat 14 abad
silam Nabi Muhammad S.A.W. Pernah menganjurkan untuk senyum sebagai
suatu sedekah bagi orang lain.


Ketika saya bercerita tentang keisengan
itu, responnya adalah “kayak orang gila dong Vin kalo aku
senyum-senyum sendirian gitu”. Saya ketawa mendengar responnya, dan
saya jawab balik “Halah, orang yang nganggep kita gila itu loh,
besok ga mungkin ketemu lagi, jadi ngapain diambil pusingnya, ambil
baiknya ajah” Jadi mungkin setelah anda iseng-iseng membaca tulisan
yang saya buat juga secara iseng ini, baiknya mulai dicoba untuk
belajar tersenyum dalam situasi macet, dan nantinya tetap masih
terbiasa untuk bisa tersenyum dalam episode kehidupan yang kebetulan
sedang macet.

This is Live

<!– @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Suatu sore, di sebuah halte di wilayah segitiga emas perdagangan di jantung Metropolis. Karena jam pulang kerja untuk wilayah ini hampir seragam, tak heran di halte itu sudah penuh calon penumpang yang sama-sama mau menunggu angkutan umum.

Seorang gadis manis nampak berdiri diantara orang-orang tersebut. Dari model baju yang dikenakannya bisa jadi gadis manis ini adalah seorang karyawati sebuah bank, atau setidaknya seorang staff administrasi disalah satu kantor pengisi gedung-gedung pencakar langit yang memagari halte tersebut.

Sesekali gadis manis tersebut melirik jam tangan mungilnya. Namun mata jernihnya lebih sering mengamati belokan di ujung jalan itu, dimana angkot yang biasa menjadi jalurnya selalu muncul di kejauhan.

Sekitar 25 menit kemudian, orang-orang yang berlindung di bawah halte itu melihat sebuah bis kota merambat pelan mendekat dari ujung jalan. Serentak sekumpulan orang mulai berdiri dan bersiap berdesakan naik bis tersebut. Beberapa meter dari halte, beberapa orang sudah ada yang mulai naik ke dalam bis bahkan sebelum benda sebesar paus itu benar-benar berhenti, orang-orang semakin menyemut begitu bis ada di depan halte.

Si gadis hanya tersenyum geli melihat kerumunan orang-orang yang berebutan naik seolah sedang ada pembagian uang didalam bis kota. “weleh bis ini dah penuh sejak muncul dari belokan sana, eh sekarang malah ditambahi orang lagi” pikirnya setengah melamun.

“Bu Nin aku duluan ya..” sebuah suara berat membuyarkan pikirannya, Rudi dari bagian security si pemilik suara melambai singkat padanya dan segera lenyap dalam kerumunan sesak tersebut.

“Buseet, nekat juga si Rudi” pikir Nin setengah kaget,

“Aku bakal ogah biar dibayarin sama Bill Gates untuk naik kesana…” dia terkikik sendiri membayangkan fakta ngapain juga Mr. Gates harus bayarin dia.

“Ayo Pasar Baru,,!! Pasar baru!!” teriakan seorang kenek angkot memecah pikirannya. Rupanya setelah bis kota tadi pergi, segera disusul oleh angkot ini. “Alhamdulillah, dateng juga angkotnya…” pikir Nin lega. Ya rumah Nin memang memiliki akses yang cukup mudah, hampir semua kendaraan umum yang lewat halte ini pasti lewat rumahnya. Nin sudah hendak melangkah, ketika kakinya terhenti dan matanya menatap penumpang di angkot itu.

“Aduh…. penuh banget neeh angkot” batinnya, yang segera diamini oleh gelengan kepala Nin pada sang kenek.

“alaaah. Tar aja Nin,” sebuah suara kecil dari dalam dirinya mengomentari,

“nunggu kalo yang longgaran aja.., pasti banyak. Toh semua kendaraan umum juga bisa sampe rumah”.

Sepuluh meit kemudian, dari ujung jalan muncul sebuah Bis Patas AC, orang-orang disekitar Nin nggak banyak yang berdiri, hanya satu dua orang, kebanyakan dari mereka menggendong bayi atau balita. Bis Patas harganya cukup mahal selisih 5000 rupiah dengan angkot dan selisih 7000 dari Bis Kota, rupanya bilangan ini mengendurkan niat orang-orang yang disitu untuk berdiri, termasuk Nin.

“wah naik ga ya??.. “ tanya Nin pada dirinya sendiri ketika pintu bis patas AC membuka anggun dihadapannya, namun kakinya terasa berat untuk digerakkan, sepertinya dibebani oleh 750 kg keraguan untuk melangkah.

“ga deh… 5000 perak kan lumayan buat tambahan beli deodorant” simpulnya mengiringi desis pintu Bis yang mulai menutup, untuk selanjutnya berangkat. Meninggalkan halte seiring bergulirnya waktu hingga …

“Trruuuuung tung tung tung…!!!”

Suara cempreng, sember, bariton keselek, dan ringkikan kuda lagi masuk angin yang digabungkan jadi satu, memekakkan telinga orang-orang yang disitu. Sumber suara ini ternyata sebuah bajaj butut berwarna hitam kemerahan, bukan merah kehitaman sepreti Bajaj seharusnya.

“waduh, parah banget nih bajaj, lebih banyak debunya daripada warna catnya” pikir Nin,

Suara Bajaj ini benar-benar mencuri perhatian seluruh komunitas kecil dibawah halte tersebut, bahkan untuk mengatasi suara memusingkan ini, beberapa anak SMP disamping Nin terpaksa harus teriak-teriak ke temennya meneruskan gosip yang sudah dirangkai sejak tadi, demi mengalahkan auman sang Bajaj.

“Ayo Pak Bapak, Bu-Ibu, Yang mau naik Bajaj dijamin rah murah, Tak iye” Teriak supir bajaj menwarkan jasanya, logat maduranya dipadu dengan suara brisik knalpot bajaj, bener-bener tidak harmoni.

“Ayo… Semuany-nya yang mau naik, bajaj ini pet-cepet, tak iye”

Nin ketawa sendiri, Logat madura dari tukang bajaj ini mengingatkannya pada Rozali, teman sekantornya yang meski dari madura tapi bisa begitu imut, cerdas, memikat, sering dapet tender, …

“YA.. SUDDAH KALO sampiyan Dak ada yang Mau!!!”

“nanti selak Hujan mriang smua sampiyan”

Rupanya supir Bajaj ini sudah berada di ujung asanya, dan mulai melaju lagi mencari rezeki di depannya, meninggalkan gema suara bising diantara cekikikan bocah-bocah SMP dibelah Nin.

Diseberang sudut mata Nin, dia melihat bahwa langit sudah benar benar gelap, lampu penerangan jalan sudah menyala sejak tadi, sebuah perasaan hampa menyelimuti Nin, sebuah kesadaran tentang… Hari sudah semakin senja, desakan waktu untuk segera pulang semakin menekan. Seperti langit yang semakin lama semakin suram, pucat oleh temaram lampu kota.

–oOo–

Demikianlah hidup itu kawan, kita hanya bisa menunggu garis nasib di rentang oleh-Nya untuk menghampiri kita, tanpa punya hak apapun untuk menuntut apapun kepada-Nya. Seluruh aspek dan komponen kehidupan juga berjalan dengan diagram alur yang serupa, rejeki, cinta, pekerjaan.

Seringkali kita dihadapkan pada terlalu banyak pilihan, yang menjerumuskan kita untuk menjadi seorang pemilih, Masa depan adalah anugrah. Hanya bisa kita sukuri, dan jalani secara sebaik mungkin dengan apapun yang kita bisa dan miliki.

Tidak selalu kehidupan kita datang sesuai harapan, selalu ada sisi kurang dalam segalanya. Tidak ada yang namanya Jaminan, yang ada hanyalah kesempatan-kesempatan yang menunggu kita untuk memberikan reaksi terbaik kita.

Seperti sedang menunggu sebuah angkutan umum, seringkali seseorang merasa bahwa Bis ini kurang cocok karena begini, angkot ini kurang bagus kaarena begitu, Si anu kurang sip karena itu, Kerja seperti ini kurang pas karena tidak sip.

Seorang sahabat yang bijak memberitahuku bahwa hidup itu bagaikan sebuah paket hamburger, suka atau tidak anda dengan mentimun, Burger selalu disajikan dengan mentimun yang juga harus kita bayar. Jadi ambil sajalah dulu, baru sikapi kemudian.

Tidak selalu kesempatan yang kita impikan muncul didepan kita, beruntunglah orang yang menemui kesempatan seperti itu. Karena lebih mudah mengejarnya, namun sungguh malang jika seseorang hidup dalam bayang-bayang impian dan ketakutan semata. Tidak pernah bisa maju dalam kehidupannya.

Hingga tiba suatu masa dimana kita menyadari bahwa hidup ini sudah berjalan telampau lama. Sudah dekat akhir waktu bagi kita namun kita belum melakukan apapun.

Yang paling penting untuk dilakukan oleh manusia adalah. Memahami situasinya saat ini, dan menjalaninya secara sebaik-sebaiknya dengan segala potensi yang dipinjamkan-Nya pada kita.

cowok pemalu,

menekan tombol send sambil menggunakan palu.

cowok pemalas,

mengirim email buat 10 orang, tapi diberikan ke salah satu temennya biar di forwardkan

cowok super pemalas banget,

setelah mengetik email langsung pulang karena males mencet tombol send

cowok irit

kirim email hanya ketika ada … (kalimatnya dipotong, biar irit)

cowok pengertian,

selalu mengerti isi email yang
dikirimkan padanya, bahkan sebelum dibuka. dan akan mengerti bahwa si
penerima telah mengerti bahwa dia ingin membalas setelah menerima email
tersebut namun khawatir jika ada salah pengertian. jadi dia mengerti
jika kawannya sudah pasti mengertikenapa email tadi tidak dibalas.

cowok playboy

punya banyak account email dan tidak pernah dibuka bersamaan (biar tidak cemburu).

cowok pro poligami

punya banyak account email, dan dibuka bergantian secara adil, bahkan seringkali
mengirimkan email yang sama dari seluruh accountnya, biar adil.

cowok hobi selingkuh

sudah punya account email tapi sering nyoba hacking account orang lain

cowok biadab,

buka satu accountemail, terus passwordnya di lupakan, buka account lagi passwordnya

dilupakan lagi. begitu seterusnya.

cowok (obsesi) beken,

Tombol send diberi efek suara tepuk tangan saat ditekan.

cowok aktifis.

senang sekali menekan tombol send, bahkan rela keliling warnet untuk membantu
menekankan tombol send pengunjung lainnya.

Cowok tidak sopan,
setelah
surat diketik, mengupil dan meleletkan upilnya di tombol klik kiri
mousenya, trus minta tolong ke cowok aktifis untuk menekan tombol
sendnya