Anak Bodoh yang Menjadi
Jutawan
oleh : Alvin Hikmawan, S.Psi
Thomas Alva Edison terlahir sebagai
anak terakhir dari tujuh bersaudara pada tanggal 11 Februari 1847, di
kota pelabuhan Milan, Ohio dari keluarga besar Samuel Edison. Edison
kecil mengalami kesukaran dalam berbicara (bahkan tidak bisa ngomong)
hingga dia berusia empat tahun. Begitu dia bisa berbicara, Edison
gemar sekali menanyakan kepada orang-orang di sekitarnya, mengenai
apa yang mereka lakukan, dan ketika jawaban yang hadir adalah “ngga
tahu, Tom” edison akan bertanya “knapa kok nggak tau?”.
Kebiasaan ini membuat Edison kecil
bermasalah di sekolahnya, saat itu dia berusia 7 tahun dan dalam
sebuah kelas bersama 38 anak lainnya (yang rata-rata usianya 11
tahun), gurunya kehilangan kesabaran dengan pertanyaan-pertanyaan
keras kepala dari anak yang cenderung hiperaktif ini selama 4 bulan
dia masuk kelas. Sang guru akhirnya mengikuti pandangan umum kala itu
bahwa anak hiperaktif adalah anak yang otaknya kurang benar. Yah
kalau bahasa psikologi modernnya ialah ADHD (attention deficit
hyperactivity disorder – Gangguan Hiperaktifitas dan Defisiensi
dalam Memperhatikan). Bahkan sang guru juga tak segan-segan
memberikan julukan “Addled” yang jika di Indonesia bisa berarti
“kosong” atau “pandir”.
Ibunya Thomas Alva Edison, meyakini
bahwa Tom (panggilan akrab Thomas Alva Edison) tidak seperti yang
digambarkan oleh gurunya – nalurinya sebagai ibu membantunya
melihat bahaya yang bisa di timbulkan oleh pandangan sang guru
tersebut terhadap kepercayaan diri Tom yang masih rapuh seperti sayap
kupu-kupu (Tom memang cenderung Introvert dan pemalu). Akhirnya
Ibunya memutuskan agar Tom keluar dari sekolah (yang segera disambut
gembira oleh sang guru) dan mulai proses belajar yang ditangani
langsung oleh beliau, proses ini secara perlahan mampu mengembangkan
Tom menjadi pribadi yang luar biasa. Selama masa home-schooling ini
edison diajari oleh ibunya mengenai pengetahuan filosofi dan agama.
Sedangkan oleh ayahnya, Tom di tantang untuk mempelajari buku-buku
klasik dan memperoleh uang saku sebesar 10 sen untuk tiap buku yang
ditamatkannya (waktu itu sepuluh sen mungkin bernilai Rp. 10.000 uang
sekarang)
Dalam waktu singkat, Tom mulai tertarik
pada sejarah dunia dan sastra inggris dan memutuskan untuk menjadi
seorang aktor, namun suaranya yang cempreng dan sifat pemalu yang
dimilikinya, akhirnya mau tak mau memakasa Tom berhenti memikirkan
karir ini. Namun sepanjang hidupnya Tom gemar sekali membaca dan
mendeklamasikan puisi. Pada usianya yang ke-11, orangtuanya mulai
mengajarkannya bagaimana cara belajar langsung dari index buku-buku
diperpustakaan, yang selanjutnya membuatnya lebih menyukai belajar
secara mandiri, kebiasaan ini tetap terbawa selama rentang hidupnya.
(kalau sekarang mungkin metode yang dipakai oleh Tom ini bisa
disamakan dengan menggunakan search engine macam google atau
yahoo…)
Selama setahun tersebut, Orangtuanya
juga memandunya agar belajar secara lebih selektif atas apa yang dia
baca. Hingga dia bisa menghabiskan : Kebangkitan dan Keruntuhan
Kekaisaran Romawi, Sejarah Dunia, Kamus Sains dan berbagai macam
Percobaan-percobaan kimia praktis. Seiring dengan makin berbobotnya
buku bacaan yang dilahapnya, Orangtua Tom merasa mulai kewalahan
untuk menjawab pertanyaan bocah 12 tahun ini mengenai masalah Sains,
terutama yang menyangkut tentang teknis-teknis mendalam sehingga
mereka harus menyisihkan uang belanja keluarga untuk menyewa seorang
Guru Les yang handal khusus untuk membimbing Tom. Saat Tom mengetahui
bahwa uang Les yang dipakainya mengurangi uang belanja keluarganya,
rupanya membawa pengaruh buruk pada Tom, karena dia memandang bahwa
Teori Sains di tulis dalam bahasa yang terlalu tinggi dan muluk,
sehingga dia membenci penggunaan tata bahasa bahasa yang “terlalu
tinggi” dan logika matematika yang rumit dan kurang mudah dipahami.
Dalam bulan-bulan selanjutnya, Tom
mencoba untuk menjadi “dewasa” dengan berjualan di stasiun kereta
api, dia berjualan apapun seperti permen, kue, koran dan setelah
beberapa minggu Tom membuka bisnis tersendiri berjualan buah dan
sayur di Kereta Api. Semuanya ini dimulai sejak dia berusia 12 Tahun.
Dua tahun kemudian, Amerika Serikat sedang mengalami debat presiden
Pra-perang sipil Antara Lincoln dan Douglas, Tom yang saat itu sudah
14 tahun (Usia awal kerja untuk masa itu) memanfaatkan aksesnya ke
kantor telegram kereta api, untuk mendengarkan berita terbaru
mengenai Debat Presiden tersebut dan menjual beritanya di koran kecil
terbitan Tom sendiri “Weekly Herald”. Surat kabar ini saat puncak
kejayaannya bisa mengisi kantong Tom sekitar $ 10 perhari. Yang
membuatnya bisa membangun laboratorium di basement rumahnya.
Ibu Tom rupanya
sedikit khawatir dengan Laboratorium miliknya, akhirnya Tom
memindahkan Laboratoriumnya ke sebuah kereta (dia menyewa gerbong
itu). Namun sebuah kecelakaan terjadi, ketika secara tidak sengaja
guncangan gerbong, membuat bahan kimia dalam Laboratorium Thomas
bereaksi dan membakar habis gerbongnya. Sang kondektur yang kalut
menghajar Tom, yang membuat telinga kirinya menjadi
benar-benar tuli sedangkan telinga kanannya hanya dapat mendengar
sebanyak 20% saja. Dan yang lebih parah, kepala stasiun melarangnya
untuk berjualan lagi di stasiun. Meskipun Tom tidak bisa lagi
mendengarkan kicau burung, namun Tom masih senang untuk mengamati
makhluk lucu ini, dan seringkali menghabiskan waktunya di gerbong
pengangkut burung (saat itu, kereta api merupakan alat transportasi
paling modern di dunia, jadi semua hal diangkut dengan kereta).
Nasibnya berubah ketika anak bungsu kepala stasiun sedang berjalan di
depan sebuah kereta yang sedang melaju, Tom yang kebetulan ada di
gerbong burung melihat anak kecil itu, dan segera melompat
menyelamatkannya. Tindakan berani ini membuat Tom dipekerjakan di
kantor telegram di stasiun tersebut (mirip sama plot ceritanya
Benyamin S. nih T_T). Setelah Setahun di Kantor Telegram itu, Tom
memutuskan untuk pindah ke kota besar, pada usia 16 Tahun Tom
menyelesaikan penemuan pertamanya, yang dikembangkan dari percobaan
di waktu senggangnya, disebut “automatic repeater” sebuah mesin
yang bisa menyambungkan telegram dari satu kantor telegram ke kantor
lainnya meski tanpa ada operator disana. Entah mengapa mesin ini
tidak pernah dipatenkan olehnya.
Pada usia 21 tahun, kehidupan keluarga
Tom mulai guncang, ibunya menunjukkan adanya tanda-tanda gangguan
kejiwaan dan ayahnya berhenti dari pekerjaannya, serta rumahnya akan
dilelang oleh Bank setempat, Tom yang sudah mulai dewasa mulai
berpikir untuk menghasilkan uang secara serius dan dia mengikuti
saran rekannya untuk masuk ke kantor telegram ternama saat itu
“Western Union Company” di Boston. Sebuah kota yang menjadi pusat
teknologi pada masanya.
Dikantor inilah Tom membuat penemuan
pertamanya (yang dikerjakannya selama waktu senggang juga) yaitu
“mesin pencatat pungutan suara elektronis” (kurang
lebih fungsinya hampir sama dengan mesin penjawab pada kuis Siapa
Berani-nya Helmi Yahya). Namun
sayangnya, penemuan itu rupanya memberikan “dampak buruk” pada
politisi – pada saat itu banyak politisi yang memanfaatkan metode
kuno yaitu maju bergantian utnuk memberikan suara, yang butuh waktu
cukup lama, dimana jeda waktu tersebut dimanfaatkan untuk
mempengaruhi lawan-lawan politiknya, curang yah..!?
Meskipun kecewa, Tom memahami bahwa
mesinnya ditolak karena terlampau maju untuk jaman itu, sehingga
pasar tidak tahu penemuan ini mau diapakan. Sejak itulah dia
menggunakan prinsip utamanya “Jangan menghabiskan waktu untuk
menciptakan sesuatu yang tidak bakal dibeli orang” – prinsip ini
sekarang dipakai juga oleh Donald Trump “Jangan mau kerja jika
tidak menguntungkan”
Selanjutnya Tom mulai melakukan
penelitian mengenai pengiriman banyak sinyal melalui kabel telegram,
berdasarkan perkuliahan Boston Tech (sekarang adalah MIT) yang bisa
menghasilkan suara manusia tiruan dari sebuah corong bahkan beberapa
gambar yang kabur (internet pertama sepertinya ^_^) dari sebuah mesin
yang dinamakan “harmonic telegraph”.
Namun Edison gagal mengembangkan
telepon bahkan dia diancam dikeluarkan dari western union dengan
alasan kerja nggak niat (apalagi becus hehehe). Ditambah lagi
percobaan-percobaannya menghabiskan banyak tabungannya, yang
membuatnya hampir bangkrut, akhirnya dia meminjam uang ke sahabatnya,
untuk membeli tiket pindah ke New York. Namun sesampainya di New York
nasib Tom tidak segera membaik, bahkan dia harus berkeliling ke
distrik perdagangan di New York, untuk mencari lowongan (beberapa
orang menceritakan bahwa Tom terpaksa tidur di Basement gedung-gedung
perkantoran New York sebagai seorang tunawisma). Suatu hari ketika
Tom sedang makan siang di kedai pinggir jalan, sebuah kantor saham
disana mengalami kerusakan serius, mesin pencatat saham yang ada di
loby kantor mengalami kerusakan, sehingga banyak pialang saham yang
merasa gusar dan berkumpul disana, sedangkan para pegawainya hanya
diam tanpa tahu apapun. Tom tergelitik untuk mencari tahu melihat
kerumunan itu, dan ketika dia memperoleh mengetahui permasalahan yang
ada disana, nalurinya untuk penasaran mendorongnya mengamati mesin
tersebut. Dan ketika Tom menyadari bahwa masalahnya hanyalah
gara-gara sebuah pegas sedikit kendor. Hanya dalam hitungan menit,
mesin tersebut kembali normal ditangannya. Manager Perusahaan itu
segera memanggilnya dan menyewanya sebagai kepala bagian perawatan
dengan gaji $ 300 sebulan (nilainya adalah dua kali gaji rata-rata
tukang listrik New York). Disinilah Tom mulai bisa bekerja sambil
mengembangkan percobaannya. Sejak inilah dia menciptakan banyak alat,
terutama ketika dia mampu menyewa sendiri laboratorium di Menlo Park
New Jersey pada 1876, mulai dari Phonograph (semacam perekam suara),
Vitascope (kamera video pertama) hingga lampu listrik pertama
diciptakan, hingga dia membuat perusahaannya sendiri “General
Electric”, yang sampai sekarang masih menjadi perusahaan multi
dimensi untuk kelas dunia.
sumber :
artikel yang sangat menarik… sebagai anak muda bagaimana Anda menyikapi program yang ada dalam blog saya? Baca dan analisa dengan seksama, think positive brother! Semoga bermanfaat…