Beberapa diantara kita pastinya pernah
terjebak dikemacetan, baik itu yang macet total maupun yang macetnya
ga niat (ya maksudnya kadang jalan kadang macet). Nah ketika kita ada
di tengah kemacetan itu, biasanya kita merasakan apa yang disebut
oleh ilmu kedokteran dan psikologi modern sebagai “mbelenek atau
sebel dan pengen uring-uringan” (hihihi, jayus yah…), nah rasa
sebel ini ternyata bukan cuman dialami kita aja loh, karena ternyata
pengendara disamping kiri kita, pengendara disamping kanan kita,
tukang becak di depan kita, sopir angkot diseberang, ibu-ibu yang mau
pulang kerja, anak sekolah yang sedang ketiduran di kelas dan
ketahuan sama gurunya (loh kok nggak nyambung sih???) walah pokoknya
semua orang yang terlibat dalam macet itu.
Nah rasa eneg ini, ternyata jika kita
amati secara lebih mendalam, ternyata berdampak juga pada wajah
masing-masing orang yang ada di dalam area macet tersebut,
jaraaaaaaang sekali kita melihat ada orang bisa senyum disana. Coba
deh lihat ketika anda sedang ada di dalam sebuah kemacetan.
Nah berangkat dari pengamatan saya
terhadap orang-orang yang sedang macet bersama-sama dengan saya,
(idiih, kurang kerjaan bener orang lagi macet diliatin) ternyata
jarang loh ada yang yang bisa senyum.
Suatu ketika saya sedang berada
disebuah titik kemacetan di surabaya tepatnya diperlintasan kereta
dibelakang Royal Plaza. Daerah itu selalu macet setiap habis ada
kereta lewat karena letaknya yang merupakan pertemuan dua pertigaan
yang sama-sama ramai. Buat yang bukan arek Surabaya, mungkin bisa
membayangkan dua buah “T” diputar 90 derajat hingga dalam posisi
tidur, yang satu diputaar kekiri 90 derajat, hingga kakinya kekiri,
yang satunya diputar ke kanan 90 derajat juga hingga kakinya ke
kanan, nah terus disatukan dalam posisi bertumpuk, dan diantara
tumpukan tersebut melintang perlintasan kereta. Sudah bisa
membayangkan sekarang? Sudah ya..?
Nah saya (dan beberapa orang lainnya
didepan dan dibelakang saya) ingin berbelok ke kanan, disisi jalan
sebelah kanan saya ada pengendara yang ingin lurus dan ada juga yang
ingin belok kanan, akhirnya terbentuklah simpul mati kendaraan
disana, dan… macetlah.
Setelah berhenti total selama 20 menit,
orang-orang pun mulai menunjukkan gelagat mbeleneg tadi.
Akibatnya otak saya yang sudah diinstal keisengan sejak
penciptaannya segera berproses, tak ayal pikiran untuk untuk iseng
pun mulai mengaliri seluruh tubuh. Akhirnya (bener-bener dengan niat
iseng semata) sayapun mulai tersenyum, senyum yang biasanya saya
berikan kesahabat yang sudah beberapa tahun tidak berjumpa, senyum
yang biasanya saya berikan kepada murid-murid saya yang berhasil
memecahkan teka-teki silang yang saya design untuk evaluasi belajar
di kelas, senyum yang saya terbitkan ketika saya sedang mendengar
kabar yang begitu menggembirakan, pokoknya senyum yang 110% tulus.
Hasilnya luar biasa, pengendara motor
yang didepan saya dari arah berlawanan kebetulan melihat saya
(habisnya saya senyum terus selama kurang lebih 3 menitan), dan
beliaupun lantas ikutan tersenyum, setelah melihat lampu seinku
menyala minta jalan kekanan, beliau kemudian menoleh kanan-kiri
sejenak untuk mengamati situasi, terus.. mundur setengah meter.
Saudara-saudara, setengah meter ini ternyata cukup untuk dilewati
motor loh. Segera pengendara yang didepan saya mengambil celah itu,
di ikuti saya, terus dan selesailah masalah kemacetan saat itu.
Sambil nyetir saya jadi berpikir,
apakah yang membuat macet itu adalah perasaan mbeleneg tadi? Karena
begitu kita tersenyum, otak yang tadinya kaku dan tegang, tiba-tiba
bisa berfikir lagi secara lancar. Mungkin ini yang membuat 14 abad
silam Nabi Muhammad S.A.W. Pernah menganjurkan untuk senyum sebagai
suatu sedekah bagi orang lain.
Ketika saya bercerita tentang keisengan
itu, responnya adalah “kayak orang gila dong Vin kalo aku
senyum-senyum sendirian gitu”. Saya ketawa mendengar responnya, dan
saya jawab balik “Halah, orang yang nganggep kita gila itu loh,
besok ga mungkin ketemu lagi, jadi ngapain diambil pusingnya, ambil
baiknya ajah” Jadi mungkin setelah anda iseng-iseng membaca tulisan
yang saya buat juga secara iseng ini, baiknya mulai dicoba untuk
belajar tersenyum dalam situasi macet, dan nantinya tetap masih
terbiasa untuk bisa tersenyum dalam episode kehidupan yang kebetulan
sedang macet.